Penguatan Kebhinnekaan dan Literasi Digital Upaya Menangkal Radikalisme di 32 Provinsi

Editor: Admin author photo
Kantor BNPT RI

Jakarta, - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merupakan lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) yang melaksanakan tugas pemerintah di bidang penanggulangan terorisme. Salah satu tugas pokok dan fungsi BNPT yaitu 

merumuskan, mengkoordinasikan, dan melaksanakan kebijakan, strategi dan program nasional penanggulangan terorisme di bidang kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi. 

Diktuip melalui press rilis resminya BNPT mengemukakan untuk menyusun strategi dan program penanggulangan terorisme khususnya kontra radikalisasi BNPT secara kesinambungan melakukan penelitian baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, sehingga strategi dan program yang disusun lebih terukur dan tepat sasaran. 

Perlu diketahui bahwa sebelum seseorang mencapai level menjadi radikal-terorisme, mereka terlebih dahulu menjadi seorang yang eksklusif dan intoleran. Mereka menutup diri dari pergaulan dan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam, tidak menghargai pendapat orang lain, mudah menyalahkan kepercayaan dan keyakinan orang lain, mudah menghakimi orang lain. Ketika seseorang sudahe ksklusif-intoleran, maka mereka akan mudah direkrut oleh jaringan radikal-terorisme. Seseorang menjadi eksklusif dan intoleran disebabkan oleh paparan paham radikalisme. Yang dimaksud radikalisme disini adalah paham radikal-terorisme.

Tahun 2020 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan penelitian dengan tema “Penguatan Kebhinnekaan dan Literasi Digital Dalam Upaya Menangkal Radikalisme di 32 Provinsi”. 

Setiap tahun BNPT melakukan penelitian dengan tujuan untuk memetakan potensi radikalisme dan menemukan daya tangkal yang efektif untuk menangkal paparan paham radikalisme di masyarakat.

Penelitian tahun 2020 ini merupakan tindak lanjut dari temuan penelitian tahun sebelumnya. Penelitian tahun 2019 dengan melibatkan 15.360 responden di 32 provinsi menemukan bahwa dimensi Pendidikan Kebhinnekaan pada anak memiliki skor paling rendah (53.11), dibanding dimensi pola pendidikan keluarga yang lain; seperti dimensi Pendidikan Moral dengan skor 82.03, dimensi Pendidikan Agama dengan skor 75.02, dan Pendidikan Kearifan Lokal dengan skor 61.22. 

Dengan demikian salah satu tujuan penelitian ini terfokus untuk memperdalam potret pemahaman dan sikap masyarakat terhadap kebhinnekaan yang ada di masyarakat.

Penetrasi internet dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Data APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) tahun 2018 menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia mencapai 64.8%. pertumbuhannya mencapai 10.12% dibanding tahun sebelumnya. Penggunaan internet untuk generasi yang lebih muda diprediksi juga makin tinggi jika dibanding dengan generasi sebelumnya. 

Temuan penelitian BNPT tahun 2018 melalui studi kualitatif menunjukkan bahwa saat ini memasuki era posth truth dimana internet dan sosial media memainkan peran penting. Generasi muda khususnya milenial dan gen Z menjadi objek radikalisasi. Generasi milenial adalah generasi yang lahir tahun 1981-2000 dan gen Z adalah generasi yang lahir tahun 2001-2010. Sedangkan generasi sebelum milenial yaitu gen X (lahir 1965-1980) dan baby boomer (lahir 1946-1964).

Secara garis besar, pola penyebaran radikalisme dilakukan melalui berbagai saluran, seperti: a) media massa: meliputi internet, radio, buku, majalah, dan pamflet; b) komunikasi langsung dengan bentuk dakwah, diskusi, dan pertemanan; 

c) hubungan kekeluargaan dengan bentuk pernikahan, kekerabatan, dan keluarga inti; d) lembaga pendidikan di sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Dari berbagai pola penyebaran radikalisme tersebut, teknik penyebaran radikalisme melalui internet menjadi media yang paling sering digunakan (Blue Print 2017, BNPT). 

Berbekal temuan penelitian 2018 dan blue print BNPT tersebut memperdalam potret perilaku dan literasi digital dimasyarakat.

Penelitian ini memiliki 3 tujuan yaitu pertama: memetakan potensi radikalisme

dimasyarakat, kedua: memetakan pemahaman dan sikap terhadap kebhinnekaan serta pengaruhnya dalam menangkal paham radikalisme, dan ketiga memetakan literasi digital dimasyarakat serta pengaruhnya dalam menangkal potensi radikalisme di masyarakat. (Red-hms) 

Share:
Komentar

Berita Terkini