Puluhan Siswa di Kepsul Terpaksa Sebrangi Sungai untuk Sampai ke Sekolah

Editor: Admin author photo

Kondisi Siswa saat ke Sekolah (dok.Suhardi/NT)
SANANA - Tak ada pilihan untuk sampai ke sekolah, selain menyebrangi sungai dan melewati jembatan rusak yang penuh ancaman keselamatan.

Begitulah kondisi yang dialami puluhan siswa Madrasah Aliyah Swasta Lembanga Pemberdayaan Masyarakat (MAS-LPM) Desa Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara.

"Kasihan para siswa hari-harinya harus melewati sungai dan jembatan rusak untuk dapat belajar di sekolah, ujar Badri Umamit salah seorang Warga Desa Waisakai kepada Nusantaratimur.com, Rabu, (27/1/21).

Menurutnya, alternarif terburuk yang diambil para siswa dan guru ini lantaran jembatan penghubung menujuh sekolah tersebut rusak parah akibat di terpa banjir beberapa bulan lalu.

"Karena sudah rusak kebanyakan siswa takut untuk melintasi jembatan, maka mau dan tidak mau mereka harus turun ke sungai, " ucapnya.

Sesampainya disungai, kata Badri, para siswa ini harus melepaskan sepatu dan melewati desar arus sungai yang berjarak kurang lebih 10 meter dengan kedalaman ukuran betis orang dewasa.

"Jadi  kalau terjadi hujan deras para siswa terpaksa harus diliburkan," katanya.

Badri mengatakan, jembatan yang rusak parah itu baru di bangun tiga bulan lalu menggunakan batang pohon kelapa. Pembangununan ini adalah hasil dari gotong royong masayakat desa setempat.

"Sebelum ada jembatan siswa dan guru sudah bertahun-tahun menyebrangi sungai untuk sampai ke sekolah," Badri mengisahkan. 

Badri bilang, jarak tempuh siswa dari Desa Waisakai ke sekolah itu kurang lebih sepanjag 1 kilo meter. Jarak tesebut dilalui tiap harinya dengan berjalan kaki.

"Maka itu kami sangat berharap agar ada perhatian penuh dari pemerintah, karena sudah puluhan tahun siswa disini harus menyebrang sungai saat pergi ke sekolah," harapnya.

Penulis : Suhardi Umasugi
Editior  : Redaksi

Share:
Komentar

Berita Terkini