Tokoh PMII Sul-Sel : Kolaborasi Kunci Partisipasi Milenial dalam Fintech

Editor: Admin author photo
Muhammad Aras Prabowo (foto:ist) 

Jakarta-Pemuda Ekonomi Syariah (DEA-SYA) menggelar kegiatan Talk Show Virtual dengan tema “Partisipasi Milenial dalam Arus Financial Technology di Era dan Pasca Pandemi. Narasumber yang hadirkan oleh Pengurus Pusat DEA-SYA adalah Muhammad Aras Prabowo, S. E., M. Ak. ( Dosen Universitas Nahdatul Ulama Indonesia), Triyono SE. MBA (Kepala Eksekutif Grub Inovasi Keuangan Digital OJK) dan Ela Siti Nuryama, S. Sos (Anggota DPR RI Komisi XI).

Kamaluddin selaku Ketua Umum DEA-SYA menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu program kerja dan usaha untuk mewadahi Pengurus DEA-SYA, Pemuda/Kaum Milenial dan Masyarakat Umum mengenai ketertarikan mereka terhadap informasi financial technology (Fintech). Dialog ini merupakan tempat sharing dan berbagi informasi mengenai literasi Fintech dari pemegang kebijakan dan aspek akademisi.

Muhammad Aras Prabowo, S. E., M. Ak menjadi pembicara pertama yang dipersilahkan oleh Muhammad Dayat selaku Moderator untuk memaparkan materinya dengan judul “Pemuda dan Financial Technology. Dalam materinya, MAP sapaan Muhammad Aras Prabowo menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 mengguncang hampir seluruh Negara di dunia, tidak terkecuali Negara adidaya, super power dan Negara maju.

“Selain masalah kesehatan, Covid-19 juga memberi dampak yang sangat signifikan dalam perekonomian dunia, tidak terkecuali Indonesia” jelas MAP Dosen Akuntansi UNUSIA.

Beberapa Negara menerapkan lock down dan Indonesia memilih untuk menerapkan metode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam menekan penyebaran Covid-19. Masyarakat di minta bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, bahkan sekolah dan kuliah dari rumah agar tidak terjadi kerumunan, papar MAP.

Namun, kata Dosen Muda UNUSIA kebijakan PSBB oleh pemerintah memicu masyarakat untuk menggunakan teknologi dan gadget untuk bertransaksi dalam memenuhi kebutuhannya selama di rumah. Itu pulalah yang menjadi pemantik berkembangnya Fintech di Indonesia. “Di balik musibah selalu ada hikmah yang diselipkan oleh Tuhan” jelasnya.

Kaitan Milenial dan Fintech, MAP menyebutkan bahwa Kaum Milenial adalah pengguna terbanyak Fintech baik sebagai produsen maupun konsumen. “Kaum Milenial harus berpatisipasi dan berkonstribusi aktif dalam Fintech dengan menjadi produsen atau yang memanfaatkan Fintech dalam menjalankan usaha. Untuk mencapai hal tersebut Milenial harus memiliki kompetensi, berinovasi, kreatifitas, berkolaborasi dan etika”.

Senada dengan MAP, Ela Siti Nuryama, S. Sos (Anggota DPR RI Komisi XI) “faktanya bahwa pelaku usaha financial technology didominasi oleh Kaum Milenial, kelompok usia tua lebih banyak bertindak sebagai konsumen. Momentum kemajuan financial technology harus disikapi oleh Kaum Milenial, harus menentukan posisi. Apakah menjadi produsen, konsumen dan penggiat financial technology”.

“Kolaborasi adalah kunci peran Milenial dalam Fintech di era pandem Covid-19, Bisnis yang kuat adalah yang mampu bertahan disetiap situasi atau berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan dan kendala yang dihadapi dalam bisnis harum memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap fenomen yang terjadi di dalam maupun di luar lingkungan bisnis.sekali lagi, Kolaborasi adalah kunci untuk menjawab seluruh tantangan dan kendala agar bisnis mempu bertahan dan berkelanjutan”. Tutup MAP yang juga Tokoh PMII Sul-Sel. 16/02/2020.

Hal yang sama disampaikan oleh Triyono, S.E,. MBA bahwa Otorisasi Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) harus berkolaborasi untuk mendorong kemajuan financial Technogy dengan taat terhadap aturan dan regulasi yang sudah dibuat oleh pemerintah. LJK dituntut untuk selalu berinovasi, kreatif dan berkolaboratif satu dengan yang lain dalam menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen, jelasnya.

Fintech secara regulasi belum kuat tetapi pengembangan aturannya sedang mengarah untuk penyesuaian sesuai kendala dan fenomena yang dihadapi financial technology. Kemudian, tambah Legislator asal Provinsi Lampung bahwa pinjaman melalui financial technology sebaiknya difokuskan untuk pelaku usaha UMKM. Karena sebanyak 5 juta UMKM di Indonesia masih melakukan pinjaman ke Rentenir, tutup Ela.

Kegaiatan berlangsung mulai pukul 19.00 s/d 21.00 WIB dengan jumlah peserta mencapai 60 orang dari berbagai provinsi. Acara dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. (Red_tim) 

Share:
Komentar

Berita Terkini