Masyarakat Lingkar Tambang di Loloda Utara Baku Pukul Dengan Aparat Keamanan

Editor: Admin author photo

Screenshot vidio konflik warga lingkar tambang dan aparat keamanan (Istimewa)

HALUT – Puluhan masyarakat lingkar tambang di Desa Momojiu, Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, bentrok dengan aparat keamanan dan sejumlah karyawan Perusahan Pasir Besi PT. SSMM sub kontrakstor PT. SAS.

Konfik itu bermula dari cekcok antara masyarakat dan pihak keamanan yang bertugas di perusahan tersebut. Konflik ini terjadi pada Kamis, 8 April 2021 kemarin, sekitar pukul 16.00 WIT.

Arif Doro, salah satu warga Momojiu yang juga korban ini menceritakan, awalnya masyarakat mendatangi kantor PT. SAS dengan maksud memprotes aktivitas penambangan pasir besi yang dilakukan oleh PT. SSMM dan menanyakan terkait PHK dirinya dari perusahan tersebut.

Arif Doro, di PHK lantaran memberhentikan aktivitas produksi penambangan pasir besi di daratan. Itu karena menurut Arif, PT. SSMM belum melakukan sosialisasi terkait penambangan tersebut kepada masyarakat sesuai kesepakatan bersama.

“Jadi alasan saya di pecat oleh HRD karena saya hentikan aktivitas produksi penambangan. Hal ini saya lakukan karena selain karyawan, saya juga orang kampung desa Momojiu,” ungkapnya.

Ia menyatakan, sebelumnya penambangan pasir besi di desa Momojiu itu berlangsung di laut, dengan cara meyedot matrial pasir. Namun tiba-tiba pihak perusahan tanpa sosialisasi, diam-diam melakukan penambangan di darat. Yang diketahui sudah berlangsung seminggu. “Mereka melakukan itu karena alat sedot matrial pasir di laut sudah rusak di hantam gelombang,” sebutnya.

“Karena itu, kami datang secara baik-baik untuk menanyakan penambangan di darat dan soal pemecatan karyawan. Saat ke kantor perusahan, kami didampingi dua orang pemerintah desa Momojiu. Disana, kami diperhadapkan dengan petugas keamanan dari TNI dan Brimob,” ujar Arif begitu di konfirmasi Nusantaratimur.com melalui sambungan telepon di Ternate, Sabtu malam 10 April 2021.

Namun saat koordinasi berlangsung, kata Arif, ada oknum anggota Brimob tiba-tiba naik pitam dan menlontarkan kata-kata makian. “Jadi karena saya di pecat, banyak karyawan yang juga masyarakat desa Momojiu itu tidak sepekat, maka mereka juga meminta diberhentikan dari perusahan,” katanya.

“Lalu ada satu anggota brimob dia marah, kemudian bilang ngoni (kalian) itu binatang, anjing. Teman saya bernama Erwin Disini (yang merupakan pemerintah desa) itu bilang, pak torang bukan binatang, lalu brimob ini emosi langsung memukulinya. Angota brimob ini tugas di sofifi,” ucap arif.

Dengan begitu, menurut Arif, bentrok pun tak terhindarkan, kedua belah pihak langsung terlibat adu jotos.

“Jadi saat kacau, torang (kami) dapat pukul, aparat juga dapat pukul. Jadi kami ini bermasalah bukan lagi dengan perusahan tapi dengan aparat keamanan dan karyawan. Kalau tentara tidak memukul kami, mereka bela masyarakat,” terangnya.

Arif menyebut, konfik itu berlangsung kurang lebih 20 menit. Akibatnya terdapat seorang warga bernama Diswan Karianga dan satu orang kaur pemerintah  desa, bernama Julesman, mengalami pecah kepala, lantaran di pukul dengan potongan besi oleh oknum karyawan.

“Tak hanya itu, banyak warga di desa Momojiu juga sudah lari ke kebun dan hutan, karena ada oknum yang menakut-nakuti dengan membangun isu bahwa aparat keamanan akan melakukan penangkapan terhadap warga,” katanya.

Kepala Desa Momojiu Alvius Tatuhe, saat di konfirmasi Nusantaratimur.com, (10/4) membenarkan kejadian tersebut.

“Iya betul, konflik itu benar terjadi,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ia mengaku, konflik tersebut bermulah dari aksi protes warga terhadap aktivitas penambangan pasir besi di daratan oleh PT. SSMM.

“Kalau menambang di darat harus ada sosialisasi, karena jarak antara lokasi tambang dan pemukiman warga desa Momojiu itu, hanya kurang lebih 130 meter,” ujarnya.

Selain itu pihaknya berharap, agar DPRD dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara (Halut) dapat mengambil langka serius menyelesaikan konflik tersebut.

“Kami sangat berharap konflik ini segera di selesaikan,” pintanya.

Semetara itu, Polda Maluku Utara melalui Kabidhumas Kombes Pol. Adip Rojikan saat di konfirmasi terkait dugaan aksi represif salah satu anggota kepolisian, mengaku belum mengatahui peristiwa tersebut.

“Saya belum ada info terkait itu,” singkatnya kepada Nusantaratimur.com, sabtu malam (10/4).

Hingga berita ini dipublis, Nusantaratimur.com belum mendapat tanggapan resmi dari pihak PT. SAS.

Penulis : Tim
Editor   : Redaksi

Share:
Komentar

Berita Terkini