Aksi Heroik Dua Nelayan Waisum

Editor: Admin author photo

Kondisi kapal KM.Karya Indah saat terbakar (istimewa)

SANANA -- Gumpalan asap hitam nan tebal di tengah laut tampak dari bibir pantai. Sekitar pukul 06.30 Bagian Timur Waktu Indonesia (BTWI), kepulan asap itu bagai memberi isyarat tak baik. 

Rupanya, Sabtu, 29 Mei sepekan yang lampaui, itu, merupakan pagi yang kelam. Sebuah kapal terbakar akan tenggelam. Untung saja, ada dua lelaki berkulit legam di sana.

Kapal Motor (KM) Karya Indah adalah kapal naas yang terbakar di tengah perairan Lifmatola, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), di Provinsi Maluku Utara (Malut). Kapal penumpang reguler ini tarik sauh dari Kota Ternate dengan tujuan Sanana, ibukota Kabupaten Kepsul.

Sewaktu kecelakaan terjadi, dua nelayan dari Desa Waisum yang tengah berkemah di Pulau Lifmatola, menyaksikan kejadian itu. Perkemahan itu tak ubahnya kantor bagi kedua nelayan tersebut. Adalah Karcito Umar dan La Dedi Kaimuddin. 

Seperti biasa, saban pagi La Dedi dan Karcito selalu mempersiapkan peralatan dan bekal di kemah itu sebelum melaut. Namun, ketika melihat para penumpang terapung di tengah laut, kedua lelaki ini dengan sigap menerjang laut yang tengah bergelora.

Dengan kendaraan laut berbahan fiberglass, dua nelayan yang sejatinya harus melaut untuk menangkap ikan itu, terpaksa harus menjadi juru selamat para penumpang naas. Dengan ruang yang terbatas di perahu penangkap ikan nan mungil itu, Karcito dan La Dedi akhirnya rela bolak-balik laut-darat mengangkut sejumlah korban.

Sekira setengah jam lamanya baru bala bantuan lainnya tiba. Terhitung, ada belasan perahu fiberglass yang turut andil menolong para korban kecelakaan laut itu. Tercatat, KM. Karya Indah mengangkut 181 orang penumpang. 

Dan, untung saja kecelakaan terjadi sewaktu sang surya sudah menyembul. Jika saja kejadiannya di malam atawa pagi buta, kemungkinan laut Lifmatola akan menjadi sebuah cerita pilu. 

Nah, dalam kecelakaan yang dialami KM. Karya Indah, aksi heroik La Dedi dan Karcito patut diacungin jempol. Sebab, ketika memberi pertolongan pertama, wanita dan anak-anak yang jadi prioritas utama keduanya. 

"Yang pertama saya temukan yaitu empat perempuan. Dua orang  nenek-nenek (wanita paruh baya-Red) dan dua orang wanita muda. Jarak empat perempuan itu sudah jauh dari kapal, dan saya langsung naikkan diatas perahu," kata Karcito Umar kepada reporter NusantaraTImur, Suhardi Umagapi, via telepon seluler, Ahad (30/5).

Sebelum menolong empat perempuan tadi, lelaki kelahiran Sanana, 37 tahun nan silam ini, mengaku dia diberi isyarat oleh seorang lelaki sepuh yang berdiri tegak diatas sebuah rakit. Pria tua itu mengarahkan Karcito untuk terlebih dulu mengevakuasi empat orang perempuan itu ke darat.

Tanpa ba-bi-bu, Karcito pun segera membelah laut untuk segera meraih empat orang tersebut. Berhasil. Empat korban itu selamat, meski Karcito butuh usaha tambahan. Yakni, harus bernyali besar. Sebab, suasana laut di pagi itu memang tak bersahabat menyusul gelombang laut cukup tinggi. Sementara dia hanya bermodalkan perahu jenis fiberglass dengan mesin seadanya.

Sebelum beraksi, rekan kerjanya, La Dedi, diminta Karcito untuk segera ke Desa Waisum. Tujuannya, yakni meminta bantuan warga setempat. Kabar dari La Dedi langsung geger di desa terdekat dari lokasi kejadian itu. Warga Waisum pun lantas bahu-membahu menyelamatkan para penumpang kecelakaan laut itu.

Tiga belas armada perahu fiberglass dikerahkan menolong para penumpang yang sudah kedinginan dan mulai kaku, itu. Walau gulungan ombak bersahutan, namun itu tak menyurutkan nyali para penyelamat.

Seluruh penumpang dan Anak Buah Kapal (ABK) berhasil dievakuasi dengan selamat. Perlu diketahui, kebakaran terjadi akibat mesin diesel di ruang mesin meledak. Diduga mesin diesel kehabisan bahan bakar dan terjadi arus pendek akibat suhu panas meningkat tinggi. 

La Dedi dan Karcito boleh dibilang punya andil cukup besar dalam peristiwa penyelamatan ini. Namun, semangat bertahan hidup para penumpang jauh lebih besar. Karena, para korban mampu bertahan di tengah gelombang dan air yang tengah pasang, itu.

Penulis : Suhardi Umagapi
Editor   : Redaksu

Share:
Komentar

Berita Terkini