Berkembangnya Kapitalisme Global (Pemikiran Frijof Capra: Strategi Sistemik Melawan kapitalisme Baru)

Editor: Admin author photo



Oleh 

Irfandi Mustafa

 

Selama beberapa dasawarsa sudah perang dunia II, model ekonomi kapitalis vesi Keynes, yang berdasar kontrak sosial antara modal dan tenaga kerja dan pengaturan siklus bisnis ekonomi nasional dengan cara – cara sentralisasi menaikkan atau menurunkan suku bunga, menaikkan atau menurunkan pajak, dan lain lain. Sungguh berhasil membawakan kemakmuran ekonomi dan stabilitas sosial bagi sebagian besar negara dengan ekonomi pasar campuran. Akan tetapi, pada tahun 1970an, model tersebut mencapai batas – batas konseptualnya.

 

Para ahli ekonomi keynesian memusatkan perhatian pada ekonomi domestik, tidak memperdulikan persetujuan – persetujuan ekonomi internasional dan jaringan ekonomi global sedang tumbuh, mereka mengabaikan kekuatan perusahan – perusahan transnasional yang amat besar, yang telah menjadi aktor – aktor penting di panggung global, dan terakhir mereka mengindahkan biaya sosial dan lingkungan dari aktivitas ekonomi, sebagaimana masih dilakukan sebagian besar ahli ekonomi. 

Ketika suatu krisis minyak memukul dunia yang terindustrialisasi pada tahun 1970an bersama – sama inflasi yang merajalela dan angka pengangguran yang besar, tampaklah bahwa ekonomi versi Keynes ( tentang pengeluaran total dalam perekonomian dan pengaruhnya terhadap output dan inflasi)  telah mencapai jalan buntu. Keynes menganjurkan untuk meningkatkan pengeluaran pemerintah dan menurunkan pajak untuk merangsang permintaan dan menarik ekonomi global keluar dari depresi.

Dalam menanggapi krisis tersebut, pemerintahan – pemerintahan dan organisasi – organisasi bisnis Barat melakukan restrukturalisasi kapitalis yang menyakitkan, sedangkan suatu proses restrukturisasi komunis yang sejalan dengannya (tetapi pada akhirnya tidak berhasil) Perestroika Gorbachev – terjadi di Uni Soviet. 

Restrukturisasi kapitalis melibatkan pembongkaran gradual kontrak sosial antara modal dan tenaga kerja, deregulasi dan liberalisasi perdagangan finansial dan banyak perdagangan organisasi yang di rancang untuk meningkatkan fleksibilitas dan adaptabilitas. 

Proses tersebut maju secara pragmatis melalui trial and error dan memiliki dampak yang berbeda pada berbagai negara di dunia dari pengaruh ‘Reaganomics’ yang membawa malapetaka di Amerika Serikat dan perlawanan terhadap pembongkaran welfare state di Eropa Barat sampai keberhasilan campuran teknologi tinggi, persaingan, dan kooperasi di Jepang. Pada akhirnya restrukturisasi kapitalis menghasilkan kesamaan disiplin ekonomi pada negara – negara dalam ekonomi global yang sedang timbul, diperkuat oleh bank – bank sentral dan International Monetary Fund.

Segala tindakan ini benar – benar bergantung pada teknologi informasi dan komunikasi baru, yang memungkinkan transfer dana nyaris instan antar berbagai segmen ekonomi dan berbagai negara, dan mengelolah kompleksitas amat besar yang diakibatkan oleh deregulasi pesat dan kelihaian finansial baru. Pada akhirnya, revolusi teknologi informasi membantu kelahiran ekonomi global baru – kapitalisme yang kembali muda, fleksibel, dan sangat meluas.

Seperti ditekan Chastells, kapitalisme baru tersebut sangat berbeda dengan yang dibentuk selama revolusi industri, atau yang timbul sesudah perang dunia II. Kapitalisme baru memiliki tiga ciri dasar; aktivitas ekonomi intinya bersifat global; sumber - sumber produktivitas dan kemampuan bersaing utama adalah inovasi, penciptaan pengetahuan, dan pengelolahan informasi; dan sebagian besar terstruktur sekitar jaring – jaring aliran dana. (**) 


Share:
Komentar

Berita Terkini