Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Editor: Admin author photo


Oleh

NUJURA KUTO

Mahasiswa Pasca Sarjana IKHAC Mojokerto dan Ketua Kaderisasi Kopri PKC PMII Maluku Utara


Kekerasan seksual di Indonesia setiap tahun semakin meningkat dan yang mengalami atau korbannya bukan hanya dari kalangan perempuan dewasa namun merebak ke remaja, anak-anak sampai balita, kekerasan terjadi di semua lingkup ruang baik ruang publik maupun domestik. dalam ruang publik sering terjadi di lembaga pendidikan padahal lembaga pendidikan merupakan sebuah wadah yang mendidik agar generasi menjadi manusia yang berakhlak tapi itu bukan menjadi jaminan karena dunia pendidikan menjadi rentan menjadi pelaku adalah seorang guru dan korban dari pencabulan tersebut merupakan murid atau siswanya sendiri.

Kekerasan seksual kerap terjadi dalam ruang domestik dalam hal ini keluarga di mana keluarga merupakan tempat ternyaman bagi seorang anak agar terhindar dari kekerasan seksual namun yang sering terjadi adalah seorang bapak yang melakukan pemerkosaan terhadap anaknya, paman terhadap keponakan dan bahkan kakek sendiri tegah mencabuli cucunya, sehingga keluarga bukan penjamin seorang anak tidak mendapat pemerkosaan maupun pencabulan karena rentan terjadi di keluarga sendiri yang menjadi pelakunya.

Bahkan Korban yang mengalami dari tindak kekerasan ini tidak dapat bersuara karena merasa pelaku adalah keluarga sendiri dalam hal ini orang tua (bapak), paman maupun kakek dan mereka adalah orang-orang terdekat dari korban sehingga tak mudah bagi korban melakukan perlawanan untuk bersuara, karena ketika bersuara sama halnya membuka aib keluarganya sendiri, makanya jarang sekali korban membuka suara untuk melapor terhadap kondisi yang di alami.

Sering kali Anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap terhadap kekerasan seksual karena seorang anak selalu di posisikan sebagai sosok lemah atau tidak berdaya dan memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. Hal ini yang membuat anak tidak berdaya saat di ancam untuk tidak memberitahukan apa yang di alaminya. Hampir dari setiap kasus yang diungkap, pelakunya orang terdekat korban tak sedikit pula pelakunya memiliki dominasi atas korban. Tak sedikit dari pelaku adalah orang tua dan guru. 

Kekerasan seksual tidak di ketahui karakteristik khusus atau tipe kepribadian yang dapat diidentifikasi dari seorang pelaku kekerasan seksual terhadap anak atau pedofil. Kemampuan pelaku menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun ancaman dari kekerasan menyebabkan kejahatan ini sulit dihindari. Dari seluruh kasus kekerasan seksual baru terungkap setelah peristiwa itu terjadi dan tak sedikit yang berdampak fatal.

Data Predator Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Siapa pun bisa menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan, Pelaku kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan mungkin dekat dengan anak ataupun keluarganya sendiri, itu sebabnya pelaku kekerasan terhadap anak ini dapat dikatakan sebagai predator.

Masalah kekerasan seksual merupakan bentuk kejahatan yang melecehkan dan menodai harkat manusia, serta patut dikategorikan sebagai jenis kejahatan luar biasa oleh karenanya penanganannya harus luar biasa pula. Upaya untuk menghentikan kekerasan merupakan hal yang sangat penting, karena kekerasan telah menimbulkan trauma yang berkepanjangan di alami oleh korban, perasaan malu, ketakutan, sehingga mengakibatkan korban sulit mengungkapkan kembali kekerasan yang pernah di alaminya.

Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) 2020 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Komnas Perempuan membuat kategorisasi berdasarkan ranah pribadi, komunitas dan negara untuk menggambarkan bagaimana kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dalam hubungan hubungan kehidupan perempuan dengan lingkungannya, baik di ruang pribadi ruang kerja atau komunitas, di ruang publik dan negara. Melalui kategorisasi ini dapat menjelaskan ranah mana yang paling berisiko terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Pada ranah pribadi kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik 4.783 kasus (43%), menempati peringkat pertama disusul kekerasan seksual sebanyak 2.807 kasus (25%), psikis 2.056 (19%) dan ekonomi 1.459 kasus (13%). Pada ranah publik dan komunitas kekerasan terhadap perempuan tercatat 3.602 kasus. 58% kekerasan terhadap perempuan di Ranah Publik atau Komunitas adalah Kekerasan Seksual yaitu Pencabulan (531 kasus), Perkosaan (715 kasus) dan Pelecehan Seksual (520 kasus). Sementara itu persetubuhan sebanyak 176 kasus, sisanya adalah percobaan perkosaan dan persetubuhan.

Eksploitasi Tubuh Perempuan Dan Dehumanisasi Perempuan

Satu hal yang mudah ditemukan dalam sejarah kekerasan adalah posisi perempuan sebagai korban. Namun jika kita hanya melihat perempuan sebagai korban semata-mata tentunya kita tidak akan mampu menguak struktur yang lebih besar demi menjawab mengapa peristiwa kekerasan terhadap perempuan selalu terjadi. Hal ini tidak terlepas dari salah satu akar permasalahan utamanya, yaitu budaya patriarki tempat perempuan di besarkan.

Di indonesia budaya patriarki jelas tidak kondusif bagi perempuan korban kekerasan. Dalam kasus pemerkosaan, misalnya korban enggan menyuarakan kekerasan yang menimpa mereka karena rasa malu tak tertanggungkan jika mengungkapkan pengalaman tersebut. 

Pemerkosaan dianggap sebagai aib, bukan kejahatan. Bahkan perempuan korban seringkali justru dituding sebagai akar penyebab terjadinya pemerkosaan dan stigmatisasi ini terus melekat sampai waktu yang lama.

Ronbison (2005) bilang kekerasan seksual tidak bisa di pahami secara terpisah dari pola hidup kultural masyarakat yang ada. Di dalamnya pasti ada konteks ketimpangan kekuasaan yang terjadi. Lebih spesifik lagi adalah kultur patriarki yang berkembang dalam masyarakat membantu kekerasan seksual terus terjadi, ketimpangan antara derajat laki-laki dan perempuan, yang mana laki-laki dianggap selalu berada posisinya di atas perempuan. 

Sudah sejak dulu di ajarkan perbedaan yang seolah sangat timpang dan jauh terkait dengan kejantanan yang identik dengan kekuasan dan kekuatan, sedangkan berbanding dengan sangat terbalik jika kita melihat perempuan merupakan suatu hal yang lemah. sehingga laki-laki bisa mengeksploitasi tubuh perempuan dengan dominasinya karena menganggap perempuan sebagai mahluk lemah dan rendah.

Pemahaman seperti ini kemudian yang membentuk pola pikir kita dan kemudian mempengaruhi pola perilaku kita yang kemudian memandang bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan hubungan yang berbeda secara derajat. Penanaman pola pikir seperti itu sudah terpatri dalam seluruh sendi-sendi kehidupan yang sehari-hari pasti bersinggungan dengan kita. Yakni yang palin kecil sekalipun seperti pada tatanan keluarga, norma sosial, berbagai media dan peraturan tertentu yang tidak ramah perempuan dari pemerintah.

Kenapa Pelecahan Seksual Terjadi? 

Jadi kenapa pelecehan seksual bisa terjadi? Pelecehan seksual terjadi karena ada suatu relasi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks sosio kultural. Dimana posisi laki-laki seringkali dianggap lebih superior ketimbang perempuan yang kemudian mengisyaratkan seolah dia mampu untuk melakukan segalanya sesuai dengan kehendaknya jika berkaitan dengan perempuan yang lebih inferior karena budaya patriarki masih kental di masyarakat.

Pola pikir seperti itu yang sudah tertanam dari turun temurun tidak bisa kita putuskan dengan mudah karena sudah menjadi kultur dan di percayai oleh masyarakat luas. Ketika telah di percayai, maka hal-hal terkait dengan pelecehan seksual akan bisa dianggap sebagai sesuatu yang remeh atau bahkan kurang penting sama sekali. Lebih miris lagi adalah ketika tindak pelecehan seksual menjadi satu kebiasaan dan kewajaran dari masyarakat setempat karena menganggap bahwa tindakan itu merupakan naluri alamiah dari laki-laki yang pasti suka menggoda perempuan.

Ketika terjadi pelecehan seksual maka masyarakat akan menghakimi korban dengan dalil karena mengunakan pakaian terbuka misal pakai baju ketat, dan rok mini yang dimana itu di katakan sengaja menggoda laki-laki untuk melakukan pelecehan terhadap tubuh perempuan, bukan hanya sebatas itu saja ucapan kata-kata yang di lontarkan kepada korban pelecehan tak menjaga diri dengan baik, pergi sendiri dan sebagainya, mereka juga tidak menyalahkan laki-laki atas perbuatannya yang kejinya itu. Padahal ketika perempuan yang pakai tertutup pun masih mengalami pelecehan seksual, jadi pakaian bukan menjadi faktor dan alasan sehingga terjadinya pemerkosaan.

Seakan kalimat di atas menggambarkan bahwa ketika laki-laki dihadapkan dengan seorang perempuan maka pasti akan langsung “diterkam”. Padahal jika kita maknai metafora itu sangatlah tidak sepadan karena manusia seharusnya memiliki nilai-nilai moral dan etika dalam dirinya, tidak terus menerus hanya akan menuruti hawa nafsu alamiahnya saja. 

Budaya patriarki sudah dilanggengkan serta tertanam di pola pikir masyarakat kita ini karena berawal dari gagasan yang kemudian terlegitimasi dan di percaya, serta dipraktikkan bahkan tanpa sadar. Maka seharusnya kita menciptakan narasi tandingan melawan hal tersebut yang kemudian suatu saat akan mungkin terlegitimasi juga.

Cara Melawan Kekerasan Seksual

Untuk melawan tindakan pelecehan seksual yang semakin meningkat dibutukan kerja sama seluruh elemen gerakan mulai dari pemerintah, tokoh Agama sampai dengan masyarakat untuk memiliki kesadaran yang sama agar melindungi perempuan serta memberikan pendidikan seksual secara dini kepada setiap anak laki-laki dewasa maupun remaja agar mereka tindak melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan.

Berbagai macam bentuk kekerasan seksual ada dan terjadi, sudah terlalu banyak masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual. Dan terlalu banyak orang-orang yang terpaksa bungkam karena perbuatan keji orang lain. Sudah seharusnya negara memberikan payung hukum untuk kekerasan seksual ini, dimana hukum dapat melindungi korban dan membuat efek jera kepada pelaku. Dan sepatutnya pemerintah memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan seksual kepada masyarakat serta sebagai masyarakat dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual, sebuah keluarga sangat berperan penting dalam memberikan pemahaman kepada anak-anaknya terutama ( anak laki-laki) agar tidak melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan siapa pun dia dan lebih menghargai serta menghormati perempuan.

Perempuan harus merdeka atas tubuhnya sehingga tak seorang pun boleh mengeksploitasi atau melakukan pelecehan seenaknya, entah bagaimana pun penampilan dan apa yang di gunakan perempuan dalam berpakaian, bukan berarti laki-laki bisa melakukan pelecehan terhadap tubuh perempuan. (**)


Share:
Komentar

Berita Terkini