Negeri Rempah Yang Tambang

Editor: Admin author photo

 

Dok Istimewah

Om Pala Melanesia

DR. Mukhtar A. Adam., SE., M.Si

Ternate pernah catat sejarah mengemanya teori-teori pasar bebas yang memaksa transaksi antar negara, antar kawasan, dan antar benua, jika bukan karena rempah, seantero dunia tidak saling invasi dan merebut kuasa di negara jajahan, rempah memaksa berbagai negara memperkuat angkatan perang menginvasi negara lain, atasnama kuasa ekonomi, membelah benua dan samudera mencari kepulauan rempah, dengan komoditi andalannya Cengkeh, Pala, dan Lada, gerak invasi antar negara tidak hanya berimplikasi rebut kuasa tapi juga memigrasi ilmuan membangun kerangka-kerangka teori bagi kebutuhan ilmu pengetahuan dan peradaban, tidak hanya memigrasi Wallacea ke Ternate yang di serang Malaria di Halmahera, bisa jadi invasi negara merebut kuasa ekonomi, menginspirasi Adam Smith menuangkan konsep Pasar Bebas, yang digandrungi ilmuan ekonomi dan sosial, dari ancaman perang senjata ke perang ekonomi yang terkonsulidasi.

Warga Ternate pada zamannya sadar akan kebutuhan pasar global, walau bermukim di pulau kecil, namun bervisi global, menyediakan komoditi yang memaksa warga dunia berdatangan di Bumi Moloku Kie Raha, cara menarik simpati global dengan mendorong komoditi cengkeh, mereka paham pasar global membutuhkan komoditi langkah dipasar Eropa, Arab, dan Amerika, mereka paham cina akan migrasi ke kepulauan rempah yang membentuk Kapita Cina, karena rempah menjadi Magnet migrasi warga dunia, luar biasa nenek moyang Moloku Kie Raha, merekonstruksi komoditi rempah sebagai sebagai komoditi unggulan global, yang menjadi mesin ekonomi dan mesin teori-teori dari ilmuan yang mengabadikan ilmunya bagi peradaban.

Sejarah mungkin hanya sebuah catatan peristiwa yang dicatatkan untuk dikonstruksi ulang, dan apabila peristiwa itu terjadi perulangan maka itulah repetisi sejarah.

Ternate kini menjadi kota kecil, yang daya tampungnya tak lagi memenuhi komposisi gerak ekonomi yang multisektor. Dinamika warga yang tumbuh dari “pemakan” waris yang tak lagi produktif. Dapat dikata generasi manja yang tak mampu melahirkan komoditi global yang memaksa bangsa dunia, datang menghampiri negeri seribu pulau diabadikan dalam gambar pulau Maitara terhadap nilai tukar 1000. 

Ternate kini menjadi penonton dari gerak Halmahera yang menglobal, Ternate kini menjadi pulau kecil yang menghiasi dirinya pada aktivitas ekonomi semu, Ternate tak sekuat pada zamannya untuk membangun benteng pertahanan dari kastela sampai Dufa-dufa, Ternate memang manja dari generasi pemakan waris.

Halmahera kini menjadi primadona, dari menggemanya perang dagang yang tak berkesudahan dari dominasi Atlanta ke Pasifik, dari Amerika ke Cina, semua luluh lantah oleh Covid-19 yang telah menjadi mesin pembunuh ekonomi yang terkapar akibat resesi. Namun lain halnya dengan Halmahera yang menunjukan keperkasaannya menjadi penyumbang ekspor yang mengila dengan tumbuhnya ekonomi yang tak mencenangkan. Walaupun bayang-bayang miskin terus meningkat namun itulah Halmahera yang kaya dan orangnya miskin. Di mana yang miskin menjadi potret yang terus membayangi laporan statistik dari angka dan narasi yang terus-menerus menjerumuskan keterbelakang, keterpinggirkan bahkan nyaris terabaikan dari sorak-sorak dentuman mesin-mesin ekonomi tambang. Tambang sungguh gagah perkasa, menjulang tinggi melahirkan ketimpangan, dan menjamin miskin masa depan yang dipuja masa kini. Biarlah negeri penuh pujian dalam balutan miskin yang sombong.

Kembali ke rempah, perjelas status rempah, biarkan tambang dihabisi oleh orang yang layak menghabisinya, namun kita adalah anak rempah yang terus berjuang meneguhkan rempah sebagai penyangga dapur bibi-bibi dan om-om agar mereka menjadi berarti karena pala, cengkeh, kelapa, dan ikan. Titik ini adalah sahabat ekonomi yang selalu mengantarkan jalan menuju baittullah, rempah yang akan membuat jalan mengelilingi dunia, maka hidupkanlah rempah di negeri rempah.

Salahkah jika kami meminta Kawasan Industri Rempah? Salahkah jika kami meminta identitas ekonomi, yang menjadi sumber konstribusi global atas kesepakatan AFTA, OPEC, dan berbagai kesepakatan multilateral karena teorinya yang memaksa dunia mengkonsolidasi ekonomi ?

Salahkah jika kami ingin terus dijaminkan sebagai identitas negeri rempah?

Kami takut dilabel generasi tambang, akan banyak caci maki generasi lanjutan yang marah pada prasasti atas salahnya kita membiarkan ekonomi di eksploitasi dan meninggalkan jejak digital ekonomi pada pembiaran. 

Bagi saja Kawasan Industri Rempah, agar kami tau cara produksi barang jadi untuk memberi makan warga dunia dari komoditi rempah yang dihasilkan pekerja kebun dan nelayan kami yang tua renta itu. Satu pinta, Kawasan Industri Rempah..!!

Juni-2021, Kampoeng Melanesia Gambesi Ternate

Share:
Komentar

Berita Terkini