PPKM di Perpanjang, Petani di Modoinding Menjerit

Editor: Admin author photo
Petani Holtikultura (Foto/Ichan)

MINSEL- Pemerintah Sulawesi Utara (Sulut) baru-baru ini mengeluarkan putusan diperpanjangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sampai 20 September 2021.

Putusan pemerintah Provinsi Sulut tentang diperpanjangnya PPKM, tentu mengikuti arahan dari pemerintah pusat. Namun dampak diperpanjangnya PPKM membuat para petani di Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulut menjerit. 

Pasalnya, semenjak diberlakukannya PPKM harga sentra produksi hortikultura turun.

Fanty Muaja salah satu pedagang sekaligus petani Holtikultura misalnya, salah satu pedagang daun bawang di Kecamatan Modoinding. Dirinya mengatakan bahwa kebijakan PPKM ini sangat merugikan pedagang disana.

"Sebelum adanya PPKM harga daun bawang biasanya dijual dengan harga 15 ribu sampai 25 ribu per bal. Namun saat adanya kebijakan PPKM, kami hanya bisa menjual bawang batang dengan harga 5 ribu per balnya. Itupun penjualan saat ini sangat sulit," curhat pedagang sekaligus petani di Desa Sinisir, Kecamatan Modoinding ini, Sabtu (11/9).

Dengan kondisi harga seperti saat ini, hasil produksi pun melimpah. Tak sedikit sayur-mayur, kentang, wortel, jahe dan daun bawang para petani rusak begitu saja, tanpa dipanen.

"Mau dipanen, lebih tinggi ongkos kerja dari pada harga jual, belum lagi biaya angkut. Soal kos pengolahan awal hingga perawatan menjelang masa panen, pastilah merugi waktu, tenaga dan uang," tambahnya.

Dirinya berharap, pemerintah bisa melihat kondisi para petani dan pedagang di modoinding.

"Kebijakan PPKM, membatasi pengiriman di sejumlah perbatasan provinsi. Tentu sulit bagi kami untuk mengirimkan barang keluar daerah. Sementara pemerintah sampai saat ini tak ada perhatian kepada kami sebagai pedagang dan petani di Kecamatan Modoinding," keluhnya. (Tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini