Guru Pukul Siswa, PGRI Minta Damai

Editor: Admin author photo
Menyikapi permasalahan tersebut, Ketua PGRI, Arban Mochsin bersama pengurusnya, Kepala Sekolah SMP Ngeri 2 Sanana, kemudian yang hadiri juga Asisten III Pemda Kepsul, mendatangi langsung Polres Kepulauan Sula, untuk melakukan mediasi dengan pihak polisi, Jum'at (08/10/2021).

SANANA- Kasus pemukulan oknum guru SMN 2 Sanana, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) terhadap muridnya, ditanggapi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setempat.

Kendati demikian, kasus pemukulan itu telah berujung pelaporan ke Polres Kepulauan Sula.

Menyikapi permasalahan tersebut, Ketua PGRI, Arban Mochsin bersama pengurusnya, Kepala Sekolah SMP Ngeri 2 Sanana, kemudian yang hadiri juga Asisten III Pemda Kepsul, mendatangi langsung Polres Kepulauan Sula, untuk melakukan mediasi dengan pihak polisi, Jum'at (08/10/2021).

"Alhamdulillah, tadi kami bertemu langsung dengan pak Kapolres, dan pak Kapolres apresiasi kedatangan kami, dan meyerahkan sepenuhnya ke Reskim untuk menjadwalkan mediasi kedua belah pihak untuk diselesaikan secara kekeluargaan," ungkap Ketua PGRI Kepsul, Arban Mochsin usai rapat dengan Kapolres.

Arban mengaku, sebelumnya sudah ada upaya-upaya dari pihak pelaku dengan bertemu langsung keluarga korban. Namun karena masalah ini waktu itu terjadi itu langsung dilaporkan ke polisi bahkan juga sudah dilakukan visum.

"Makanya kami dari PGRI punya langkah-langkah persuasif, agar masalah ini dapat diselesaikan," katanya.

Dalam pertemuan dengan pihak Polres, kata Arban, pihaknya meminta agar pihak Polres dapat memediasi untuk menyelesaikan masalah itu.

Menurutnya, pemukulan itu bukan karena disengaja atau dendam. Namun ini spontanitas tindakannya guru dalam mendidik siswa.

"Jadi kami berharap masalah ini bisa diselesaikan damai dan kekeluargaan dari kedua belah pihak," tandasnya.

Terpisah, KBO Reskim Polres Kepulauan Sula, AIPDA Lajaya Muhiddin mengatakan terkait dugaan kasus penganiayan yang dilakukan oknum guru SMPN 2 Sanana, memang saat ini sudah masuk dalam tahapan penyelidikan.

"Dan kami juga sudah minta keterangan terhadap kurang lebih 5 orang saksi dan juga pihak terlapor," ungkap Lajaya. 

Lanjut kata Lajaya, ada upaya yang dilakukan pihak sekolah, Ketua PGRI, kemudian ada Asisten III yang mewakili pemerintah daerah, dan permintaan mereka lewat pertemuan dengan pak Kapolres, agar kasus itu bisa diselesaikan diluar pengadilan.

"Berdasarkan permintaan mereka, kami selaku penyidik berupaya dan mencoba mediasi, dengan harapan, kalau dalam mediasi ada titik temu tentu kami dari penyidik akan memfasilitasi itu," terangnya. 

Lajaya bilang, pihaknya akan memfasilitasi dalam hal mempertemukan antara pihak korban, pihak terlapor, PGRI. 

"Memang waktunya mediasinya kami belum bisa tentukan, tapi yang pasti dalam waktu dekat. Karena korban ini orang tuannya ada di Loseng, dan kami akan berkomunikasi. Nah ketika mereka sudah fiks hari apa dan kami akan pertemukan mereka di Reskim ini," ujarnya.

Ditanya, kasus yang sudah masuk ke tahap peyelidikan apakah bisa di mediasi untuk diselesaikan, Lajaya bilang, itu tergantung kesepakan kedua belah pihak. Dimana kesepakan itu kalau sudah disepakati oleh pihak korban dan terlapor. "Kami akan lihat, kalau semua persyaratan itu sudah terpenuhi maka kami siap bantu mediasi," pungkasnya. (Red/tim) 

Share:
Komentar

Berita Terkini