Maluku Utara Di Pusaran Uang dan Derita

Editor: Admin author photo

 


Catatan Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Triwulan III 2021

Om Pala Melanesia

DR. Mukhtar A. Adam


Covid-19, mungkin hanya datang menegur warga Maluku Utara, bahwa wabah Pademi yang menyerang dunia, ada cara Tuhan memberi pesan, bahwa alam perlu di lindungi, perlu di jaga, perlu di kelola uang berkesinambungan karena sesungguhnya potensi alam yang Allah titipkan bukan untuk di eksploitasi berlebihan untuk kemakmuran sesaat, karena sumberdaya alam adalah cara Allah menitipkan gerak ekonomi bagi kemaslahatan ummat manusia yang mengalami evolusi setiap tahun, yang membentuk lapisan generasi-generasi. 

karena itu Covid-19 datang dari Wuhan China untuk mengabarkan cara para oligarki menguasai ekonomi global dengan merambah sumberdaya alam, atas nama investasi memaksa negara-negara yang kesulitan pendanaan untuk di eksploitasi sumberdaya alam, untuk kemakmuran pemegang modal, yang mengatur instrumen kebijakan global. 

Masyarakat Maluku Utara, dalam evolusi ekonomi selalu saja menjadi objek derita, saat rakyat Maluku Utara mengabarkan rempah-rempah yang setara dengan emas memaksa bangsa-bangsa Eropa datang menjajah Indonesia dan menancapkan kekuasaan bersenjata untuk menguasai ekonomi, dan merambah Nusantara. 

Kesadaran akan penjajah menyadarkan Nusantara merebut merdeka, di atas panji-panji merah putih Soekarno mengelilingi Nusantara membangun konsolidasi merangkai Indonesia menjadi satu kesatuan uang kokoh. 

Soeharto melanjutkan perjalanan merdeka dalam gerak ekonomi, merambah hutan Halmahera dan pulau-pulau kecil, menancapkan industri kayu di Mangoli dan Sidangoli menggerakkan ekonomi, Malut pun kembali bergairah menjadi pusat ekonomi dan Ternate jadi simbol kemakmuran Moloku Kie Raha. 

Sayang kita tak cukup kuat mengelola konflik yang efektif dampaknya reformasi justru menurunkan pertumbuhan yang rendah kelembagaan ekonomi kembali di konsolidasi untuk mencari titik tumbuh yang efektif bagi bangsa. 

Saat ini ditengah gencar-gencarnya ancaman wabah Maluku Utara kembali menggema di seantero dunia, saat daerah dan bangsa lain mengalami tekanan ekonomi akibat Covid-19, Malut justru tumbuh spektakuler. Sayang gerak ekonomi di pandang penuh kelesuan sudut wajah warga Maluku Utara mempertontonkan kemiskinan, ketertinggalan Sumber Daya Manusia yang rendah dari IPM yang anjlok, semarak ibukota Sofifi yang tersandar penuh kepentingan.

Di posisi Kelompok milenial menatap hampa ketidak pastian dari banyaknya institusi pendidikan mengobral gelar rendah kompetensi dari vokasi uang jadi solusi tak diminati. Para pejabat mengejar gelar akademik sebagai simbol sosial dari angka putus sekolah yang tak terurus dari jualan jabatan kepala sekolah di pasar kuasa menjadi akumulasi dari makin terpuruknya negeri Gugus pulau. 

Mari kita menghitung angka-angka pertumbuhan uang tak bernilai itu karena hanya deretan angka yang tak membuat kita bernilai. (**) 

Share:
Komentar

Berita Terkini