Kafe Dan Kelas Sosial (Sebuah Telaah kebudayaan)

Editor: Admin author photo

 


Oleh: Nuel Jean Gaston

Filsuf Muda

Hidup Itu Sederhana, Kita Yang Membuatnya Sulit." – Confucius. 

Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasi oleh bagaimana orang lain menghabiskan waktu mereka (aktivitas) dilihat dari pekerjaan, hobi, belanja, olahraga, dan kegiatan sosial serta interest (minat) terdiri dari makanan, mode, keluarga, rekreasi dan juga opinion (pendapat) terdiri dari mengenai diri mereka sendiri, masalah-masalah sosial, bisnis, dan produk.

Dalam Kehidupan sosial terutama terdiri dari penampilan teatrikal yang diritualkan. Maksudnya, manusia bertindak sebagai aktor yang sedang memainkan sebuah lakon di atas panggung dimana lingkungan sosial yang ada di sekitarnya memiliki peranan sebagai penonton yang baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika melihat pertunjukannya. Dapat dikatakan bahwa gaya hidup merupakan bagaimana seseorang hidup, membelanjakan uangnya setelah kebutuhan primernya terpenuhi, serta bagaimana seseorang mengalokasikan waktu luang yang dimilikinya.

Penulis melihat gaya hidup di kafe akan melahirkan segala sesuatu yang dilakukan dan melekat pada dirinya itulah yang dipertontonkan di hadapan semua orang. Lalu, timbullah berbagai interpretasi atas apa yang dikenakan seseorang maupun yang dikonsumsinya. 

Kegiatan mengonsumsi menjadi hal yang sangat penting dalam masyarakat industri karena industrilah yang menyuplai kebutuhan gaya hidup seseorang atau satu masyarakat. Saat ini, kafe berkontribusi pada kepuasan hasrat hedonistik. Terutama untuk kehidupan anak muda. Remaja tidak lagi puas menikmati ruang keluarga atau tempat bersantai bersama keluarga. Tidak hanya sekedar mengobrol atau berdiskusi.

Lifestyle (gaya hidup) masyarakat perkotaan saat ini, melatarbelakangi beberapa kelompok masyarakat memilih kafé atau warung kopi yang disinyalir mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut Herbert Marcuse, terkait dengan dengan konsumerisme bahwa hal ini akan menumbuhkan tuntutan palsu. Artinya Sebuah proses yang didorong oleh ideologi konsumerisme adalah bahwa makna hidup kita harus ditemukan pada apa yang kita konsumsi, bukan pada apa yang kita hasilkan. Kafe dinilai lebih menjanjikan sebagai memenuhi kebutuhan eksternal dan internal. Seperti halnya pendekatan budaya, konsumsi yang diterapkan pada realitas ini merupakan bentuk budaya populer. 

Para Remaja kemudian melihat diri mereka dalam produk dan menemukan jiwa mereka diaula kafe. Perkembangan budaya populer akhirnya menarik perhatian penulis untuk mengkaji realitas kehidupan remaja yang lebih memilih tinggal di kafe, kelas apa yang diadakan di luar kafetaria, dan faktor-faktor yang mempengaruhi minat mereka. Salah satu strategi komunikasi pemasaran berdasarkan lokasi yang menjadi kerangka konseptual untuk mengeksplorasi hubungan antara gaya hidup dan arsitektur.

Konsumen merupakan pelaku utama dalam aktivitas konsumerisme. Konsumsi dalam hal ini diartikan sebagai proses perubahan yang dikonstruksikan secara historis dan sosial, bukan hanya sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga sarana yang digunakan masyarakat untuk mengekspresikan identitas sosial dan pribadinya serta memahami makna hidup. Di era perkembangannya, konsumsi bukan hanya dalam bentuk material, tetapi sudah menjadi aktivitas produktif yang sederhana. Inilah realitas masyarakat modern.

Orang yang mengkonsumsi terus menerus. Namun, konsumsi tidak lagi merupakan kegiatan yang memenuhi kebutuhan dasar dan fungsional manusia. Konsumsi telah menjadi budaya, budaya konsumsi. Budaya konsumen adalah tatanan sosial di mana perilaku jual beli barang dan jasa dianggap sebagai struktur sosial tanda dan makna, serta perilaku sehari-hari yang biasa dilakukan orang. Salah satu wujud nyatanya adalah gaya hidup. Kebanyakan orang menganggap cara hidup sebagai ciri zaman kita. 

Padahal gaya hidup adalah pemborosan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan gaya hidup untuk mengenali dan menggambarkan kompleksitas identitas dan koneksi yang lebih luas. Cara hidup dalam kehidupan masyarakat bergantung pada bentuk-bentuk budaya dan seringkali diabadikan oleh pengertian kelas-kelas yang membedakan manusia dalam ruang dan waktu. Situasi ini dibuktikan dalam bagaimana seseorang mengevaluasi statusnya melalui anggota kelompok. 

Harusnya kita ketahui bahwa pencarian interdependensi (hiburan) dan makna (meaning) melalui iming-iming pembaruan tanpa akhir yang diberikan oleh pasar. Faktanya, orang yang berbeda menghabiskan waktu luang dan uang mereka secara berbeda. Artinya berkaitan dengan pembahasan ini, mengonsumsi makanan di kafe bukanlah konsumsi yang murah, juga bukan sekadar menikmati menu yang ditawarkan.

Secara sederhana, budaya ini dikatakan sebagai "budaya pop" atau budaya populer. Budaya populer terdiri dari unsur budaya dan massa, suatu model yang mewakili kesatuan pengetahuan, kepercayaan, dan kebiasaan yang bergantung pada kemampuan individu untuk mempelajarinya dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. 

Meminjam Bahasanya Pierre Bourdieu budaya populer adalah budaya yang terbentuk sebagai produk industrialisasi, dan budaya di anggap sebagai ekspresi dari keinginan 'normal' untuk menerima dan bertahan, bahwa budaya sering digunakan untuk memperluas dan mempertahankan perbedaan kelas. Misalnya, “rasa” dapat dikatakan sebagai kategori ideologis yang berfungsi sebagai ciri “kelas” (dalam hal ini penggunaan istilah “kelas” memiliki arti ganda, yaitu kategori sosial ekonomi dan tingkat kualitas tertentu.

Konsumsi budaya sengaja ditentukan atau tidak disengaja untuk memenuhi fungsi sosial sebagai pembenaran atas perbedaan sosial. Hal ini tentu saja meningkatkan pembedaan antara budaya populer (pop culture) dan budaya tinggi (high culture). Dengan kata lain, budaya populer adalah budaya komersial yang diciptakan sebagai hasil produksi massal, dan budaya kelas atas adalah budaya yang diciptakan oleh kreativitas individu. Akibatnya, budaya tinggi adalah salah satu yang lebih menerima pengakuan moral dan estetika, sedangkan budaya populer menjadi sasaran analisis sosiologis untuk mengontrol hal-hal kecil yang sebenarnya ditawarkan ruang modernis karena budaya pop jauh lebih luas dan dapat diakses oleh semua orang. Perhatian utama budaya populer adalah hiburan, dan rekreasi mendominasi dalam bentuknya. 

Semua produk budaya yang sengaja diciptakan menurut selera kebanyakan orang dapat disebut budaya populer. Penonton budaya pop adalah konsumen yang tidak memilih Budaya itu sendiri dianggap sebagai formula operasional. Budaya ini ditelan oleh massa tanpa ragu-ragu seperti Mode, musik, makanan, kecantikan, tempat tinggal, dll. Semuanya adalah bagian dari budaya populer. 

Salah satu budaya pop yang akhirnya merambah dan berkembang menjadi budaya oriental adalah industri kafe. Kafe Dikenal sejak awal sebagai tempat untuk bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman, kafe ini telah menciptakan kebiasaan baru di kalangan remaja Indonesia. Kafe harus jadi rumah pertemuan global di mana orang-orang dari semua lapisan masyarakat akan berkumpul untuk bertukar ide dan pengalaman yang bijaksana dan mendukung tema sentral. Dari Kafe kita dapat belajar lebih banyak ketika kita bertanya dan mempertanyakan sesuatu kepada orang lain sehingga kebiasaan-kebiasaan baru ini menjadi model konsumsi populer tersendiri.

Lantas bagaimana dengan proses konsumsi simbolik?

Proses ini merupakan sinyal penting bagi perkembangan gaya hidup yang lebih menekankan nilai simbolik produk daripada nilai fungsional dan nilai kegunaan. Ini berarti bahwa kelas sosial memiliki proses konsumsi yang berbeda, masing-masing dengan proses identifikasi yang unik. Nilai simbolis dari konsumsi tampaknya dimaknai berbeda-beda tergantung kelompoknya. 

Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa pilihan konsumsi dilakukan menurut kelas, jika integrasinya ke dalam satu tatanan umum tidak terbentuk sepenuhnya, kemudian Komoditas yang dikonsumsi menjadi wakil dari keberadaan perasaan dan rasa percaya diri terhadap jenis produk yang dikonsumsi telah menunjukkan bahwa itu bukan sekedar aksesoris, tetapi barangbarang merupakan isi dari kehadiran sesesorang karena dengan cara itu ia berkomunikasi.

Berdasar proses konsumsi dapat dilihat bahwa konsumsi citra “image” di satu pihak telah menjadi proses yang begitu penting dimana citra yang dipancarkan oleh suatu produk merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok. Nilai simbolis dalam konsumsi tentunya akan diinterpretasikan secara berbeda oleh kelompok yang berbeda pula. 

Remaja yang hobi ngobrol, berdiskusi dan memiliki waktu luang yang cenderung banyak akan lebih memilih cafetaria sebagai cerminan diri mereka. Berbeda halnya dengan yang memiliki waktu senggang terbatas. Kafe telah berfungsi sebagai alat komunikasi karena dianggap mewakili individu dalam menegaskan serangkaian nilai yang melekat pada tempat tersebut.

Aspek terpenting dari komunikasi pemasaran strategi kafe agar terlihat spasial adalah consumer centricity, sedangkan aspek lainnya berasal dari kebutuhan dan keinginan konsumen adalah Keberhasilan suatu strategi komunikasi pemasaran ditentukan oleh kedekatan antara produsen dan konsumen. Untuk mengenal konsumennya (remaja) lebih dalam, para pembuat warnet harus terlebih dahulu memahami kombinasi uang dan waktu yang dimiliki oleh remaja. Ketika remaja ingin menggunakan kafetaria, itu berarti mereka hidup dengan cara tertentu. Cara hidup masyarakat modern dapat dilihat sebagai produk masyarakat yang semakin terlihat di abad ke-21 dan dibangun dengan biaya tinggi dari sudut pandang sosial. Kebiasaan-kebiasaan tersebut akhirnya menjadi realitas budaya konsumen. 

Budaya dalam perjalanan hidup mereka menempatkan penekanan yang luas pada perbedaan kelas dalam kebiasaan konsumsi mereka. Konsumsi lebih dekat untuk mencapai identifikasi diri. Seiring berkembangnya industri kafe, remaja menjadi konsumen aktif, membentuk remaja yang akrab dengan pola kafe. Memilih lokasi merupakan strategi penting yang harus diperhatikan oleh para pengusaha warnet. Persaingan antar kafe mendorong keunikan yang diinginkan remaja. Fitur-fitur yang muncul sesuai keinginan konsumen, antara lain memperhatikan arsitektur ruang, meliputi pencahayaan, warna, desain, kesempurnaan kondisi ruangan, ketersediaan tempat parkir, dan citra yang muncul. Dalam hal ini, konstruksi berpikir generasi juga sudah tersulap dengan adanya modernitas yang konon katanya memberi fasilitas kepada masyarakat dalam berinteraksi.

Adapun hal lain selain rutinnya orang datang, ternyata sosial media juga bagaikan fenomena yang hampir membunuh kebudayaan lama dalam hal berinteraksi. Artinya bahwa budaya berinteraksi memiliki peran yang intens dalam berkomunikasi antar sesama, namun dunia teknologi membuka ruang baru dalam berinteraksi. Kurangi interaksi di media sosial dan seringlah berkomunikasi secara langsung. Ingat kafe pernah menjadi ruang revolusi. (semoga**)

Share:
Komentar

Berita Terkini