Anda Mahasiswa? Harusnya Tahu Ini!

Editor: Admin

Oleh 

Sahrul Masrufi

Biro Kaderisasi PMII Rayon Mahbud Djunaidi

Selain di kenal sebagai agen of change (agen/ seseorang yang di harapkan bisa membawa perubahan) dan sosial of control (pengontrol sosial/ yang di harapkan bisa mengontrol aktivitas sosial masyarakat). 

Mahasiswa juga di kenal atau di anggap sebagai agen intelektual. Hal ini karena dalam kesehariannya, mahasiwa di anggap bisa sekali menggarap hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat, (kegiatan-kegiatan intelektual sesuai dengan tri darma perguruan tinggi).

Namun realitasnya, peran yang biasa melekat dalam stigma khalayak umum terhadap mahasiswa itu mengalami pemudaran. Khususnya pada sebutan mahasiswa yang di kenal atau di anggap sebagai agen intelektual. Hal ini di dasari oleh kondisi dimana saat ini mayoritas mahasiswa (walaupun tidak semua) kebanyakan hanya menjalankan kegiatan perkuliahannya sebagai formalitas, hanya keluar masuk kampus dan jarang meresapi serta enggan menerapkan garapan-garapan intelektual dan nilai-nilai yang ada di dalam tri darma perguruan tinggi. 

Mayoritas mahasiswa saat ini kebanyakan asik sendiri dan hanya mementingkan urusan perkuliahannya pribadi sehingga jarang memikirkan hal-hal yang bersangkutan dengan karya, inovasi, kreativitas, terjun ke masyarakat dan sejenisnya. Ini terlihat dari minimnya semangat, partisipasi dan kontribusi mahasiswa dalam bidang-bidang sosial. Bahkan, tak jarang mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam kepengurusan organisasi baik intra, ekstra dan lainnya pun sama, seolah-olah tidak ada yang kepikiran ke arah sana. 

Seyogyanya sebagai mahasiswa yang di anggap sebagai agen intelektual oleh khalayak banyak (masyarakat), seharusnya mahasiswa dalam kesehariannya (selain mengurus berbagai kewajiban dalam perkuliahannya) itu bisa membuat dan menggarap beberapa hal di atas. Misalnya membuat karya tulis, membuat dobrakan program atau kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya (sesuai fashion atau keahliannya), berpartisipasi, mendukung dan membuat gerakan-gerakan sosial yang memberdayakan dan bermanfaat bagi masyarakat (dan internal mahasiswa itu sendiri) serta lainnya. 

Kalau diantara kita (mahasiwa) tidak atau abai melakukan hal-hal baik ini, status kemahasiswaannya mesti di pertanyakan. Karena, berarti kita sama dengan sapi perah. Padahal kita mempunyai akses terbukanya wawasan dan dunia-dunia baru yang di penuhi pengetahuan, kebaharuan, intelektual, dan lain-lain. Walaupun tidak ada yang percuma atau sia-sia, tetapi dalam konteks ini, rasanya mahasiswa itu (dalam belajar dan berkuliah di perguruan tinggi), betul-betul hanya menyia-nyiakan diri dan waktu.

Oleh karenanya, ini mesti menjadi renungan kita bersama sebagai mahasiswa teman-teman. Kita mesti mengoreksi diri dan tindakan dalam aktivitas sehari-hari kita sebagai mahasiswa, apakah sudah mencerminkan sikap atau karakter sebagai mahasiswa (agen intelektual) atau belum? Sudah mempraktekan tri darma perguruan tinggi atau belum? Sudah melakukan kontribusi yang mengandung sisi maslahat dan manfaat kepada masyarakat dan lainnya atau belum? Ini mesti kita renungkan. Kalau belum, ayo, mulai sekarang harus di mulai, supaya ke depan kita (mahasiswa) bisa betul-betul menjadi seorang mahasiswa asli yang mempunyai pandangan, tindakan dan seterusnya yang luas, konkret dan nyata di lingkungan kemahasiswaan (kampus) dan masyarakat sekitar.

Share:
Komentar

Berita Terkini