Hari Pendidikan Fitri

Editor: Admin
Foto istimewa

Mukhtar A. Adam 

(Om Pala Basudara Melanesia)

Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd

Takbir, Tahlil, dan Tahmid mengema di seantero dunia, gunung, laut, tanaman, hewan dan seantero ciptaan Allah sebagai bentuk kemerdekaan kesuciaan, mencari fitri ditengah pergemulan pikiran, perasaan dan tindakan yang berselisih, bersinggungan, bahkan memunculkan amarah, bertemu dalam forum fitri yang mengikhlaskan semua yang berbau dosa, disambut dalam maaf, hanya dengan maaf membuat kita makin tenang, ikhlas, sebagaimana ikhlasnya rotasi bumi dalam waktu dan irama yang sama, begitu indahnya iringan maaf dalam takbir, tahlil dan tahmid mengikutinya.

Dentuman takbir, tahlil dan tahmid, terdengar di sela-sela dinding rumah yang rapuh, duduk seorang anak kecil sambil bergumam, kemenangan hanya milik mereka yang berharta, memamerkan kekayaan di jalan-jalan, di rumah mewah, di setiap sudut jalan, di tempat wisata dll. Hari fitri bagai pemeran sedunia yang menampilkan kelompok kaya dengan gemerlap bau parfum, baju baru yang mewah, mobil yang bersih, rumah yang penuh cahaya. Tuhan memang tak pernah adil, merayakan fitri pada orang kaya, fitri bukan milik kami yang miskin, yang tak punya apa-apa, ah Tuhan makin tidak adil, ah Tuhan hanya membuat kita makin tersisih, hanya bisa menarik napas berat sambal duduk disudut ruangan rumah yang mau roboh peninggalan bapaknya.

Rumah yang berlantaikan tanah, dinding yang setengah tertutup, atap yang bocor, anak itu tertidur pulas di hari fitri Pendidikan, bermimpi memegang tas kecil berlari ke sekolah, dengan riang gembira masuk ke kelas, sambal memperhatikan sang guru mengajar, anak itu penuh girang, bermain bersama teman, tertawa bebas, belajar dengan penuh kesungguhan, kadang mengancungkan tanganya sambil bertanya kepada guru, “Bu apa makna fitri, bagi manusia yang tak berIQRA” sang guru menjawab makna IQRA dan pentingnya belajar bagi manusia yang bermukim di muka bumi, anak itu tersenyum ceria.

Adelun, ….. Adelun, …… (ibunya memangil) anak itupun kaget, terbangun di lantai tanah yang teralas, ternyata hanya bermimpi, Alhamdulilah walau tak sekolah, cukup dengan mimpi sekolah Allah telah hadirkan dalam mimpi hamba, sambil tangan terbuka menatap atap yang bocor, Adelun ….. saya mama (jawab adelun) tara pigi tambaru ? tanya ibunya, pi tambaru la makan mama tara bekeng makanan, sambil bergegas dari tempatnya anak kecil itu berlari melintasi jalan yang sesak melihat sanak saudara sambil bersalaman di jalan, di rumah warga, dia pun makin berlari kencang melintasi jalan, makin jauh dari rumahnya, agar tak ada lagi orang lain yang mengenalnya.

Terus berlari kencang dan terkulai dengan nafas yang sesak, anak itu duduk di sudut emper toko, bagimana bisa batambaru, tak punya uang, jangankan untuk beli baju baru, baju seragam pun tak punya, jangankan membuat kue lebaran beli buku untuk sekolahpun tak punya, jangankan mengecet rumah, mendaftar sekolah pun tak sanggup, anak itu harus membantu ibunya yang di tingalkan bapaknya yang sudah meninggal, hanya berharap pasrah membantu ibunya mengais rejeki di pasar dan emper toko untuk makan sehari.

Bermimpi untuk membaca, menulis dan membuat rangkain soal dari guru, hanyalah hayalan semalam, besok harus melangkahkan kaki menelusuri jalan-jalan kota mengais rejeki membantu ibunya untuk makan sehari, besok cari lagi begitulah rutinitasnya, sambil terduduk lemas di lereng toko yang tutup dari deru mobil dan motor yang saling lalu lalang, anak kecil itu memegang sehelai kertas, bertuliskan IQRA.

“IQRA cara Allah memerintahkan kepada manusia, sebagai khalifa untuk membaca, belajar, merangkai huruf membentuk kata, merangkai kata membentuk kalimat, merangkai kalimat memproduksi pikiran, merangkai pikiran menjadi inovasi, karena itu belajar dan sekolah menjadi jembatan bagi kemajuan, kesejahteraan inovasi dan perubahan”

Sambil menatap jalan di perempatan toko, membawa pikiran kecilnya akan masa depan, sambil bertanya 

Mungkinkah saya bersekolah ?

Mungkinkah sekolah sudah gratis ?

Mungkinkah saya punya baju seragam yang gratis ?

Mungkinkah angkot gratis untuk mengantar ke sekolah ?

Mungkinkah pulang sekolah bisa saya makan ?

Mungkinkah ibuku bisa kerja sendiri ?

Mungkinkah saya bisa melanjutkan sekolah, jika pulang tak ada makanan untuk ibu dan adik ku ?

ah sudahlah, sekolah gratis hanya untuk menggratiskan anak pejabat, bukan anak ibu yang miskin ini

ah sudahlah, sekolah gratis hanya ada di sekolah, bukan di rumah, karena di rumah makan juga mahal

ah sudahlah sekolah gratis, tapi seragam tidak gratis

ah sudahlah sekolah gratis, tapi ojek tidak gratis

ah sudahlah sekolah gratis bukan untuk saya, karena saya memang tak pernah gratis, semua harus di bayar

Sambil, memalingkan wajahnya di depan kantor walikota, terlihat satu persatu pejabat turun dari kendaraan menggunakan baju berwarna biru, yang semua berseragam, sambil berlari kecil mengambil barisan membentukan konfigurasi yang rapi penuh tertata, anak itu berdecak kagum sambil perlari di pagar kantor walikota, anak itu melihat sang Walikota dengan gagah naik ke atas podium, penuh senyum memimpin upacara di hari fitri.

Anak itu terkagum kagum melihat sang walikota yang gagah di atas podium, berpidato sambil memegang kertas sekali membaca tulisan di atas kertas, dengan penuh hikmah sang walikota membaca teks demi teks, terdengar sang walikota, berkata “Pendidikan itu Hak bagi setiap warga negara, Pendidikan itu kewajiban negara untuk menyediakan kepada masyarakat, tidak ada lagi warga kota ini yang tidak putus sekolah, semua harus bersekolah, itu komitmen saya, itu visi saya, harus dilaksanakan”

Tepuk tangan menggema, semua memuji sang walikota dengan tepuk tangan hadirin, dengan sorak sorak hidup walikota kita, hidup walikota rakyat untuk rakyat, pekikan para peserta upacara yang berbaris rapi memakai baju seragam. Anak itu berlari mengambil batu kecil lalu melempar ke halaman upacara, sambil berlari penuh marah, anak itu terus berlari dengan penuh marah, terus marah, dan hanya bisa pasrah pada marah.

Adelun dan Kampoeng Basudara Melanesia Nusantara, mengucapkan Selamat Merayakan Pendidikan Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini