Ekonomi Malut Menyayat Hati, Kado Ultah 23 Tahun Provinsi

Editor: Admin
Foto istimewa 

Om Pala Melanesia

Pakar Ekonomi Maluku Utara

Maluku Utara, dikenal sebagai Provinsi Rempah, dengan potensi sumberdaya alam yang berlimpah, baik potensi darat, gugus pulau dan laut, tersaji dalam satu kawasan Moloku Kie Raha, terletak di jalur perdagangan tersibuk di dunia, baik pada lintasan perairan maupun udara yang saling berseliwerang kapal dan pesawat menyatukan bandara dan pelabuhan menjadi titik saling bersentuhan kegiatan Ekonomi global, menjadikan Malut sebagai wilayah yang menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi global.

Maluku Utara mestinya menjadi kota dunia yang menyambungkan berbagai transaksi lintasan global, selain dikenal menyumbang energi global yang menjanjikan ditengah tekanan atas minyak bumi dan batu bara, nikel menjadi solusi energi global yang dibutuhkan berbagai negara di berbagai benua, posisi Malut sebagai produsen nikel bagi kebutuhan konsumsi global, layaknya ditempatkan sebagai kawasan yang lebih strategis untuk menopang kinerja ekonomi Indonesia dan pembangunan bagi tujuan pembangunan nasional dan daerah.

Sayangnya di tengah kemegahan ekonomi dengan berbagai potensi yang memenuhi kebutuhan konsumsi global Maluku Utara masih masuk dalam kategori provinsi terbelakang, provinsi yang tidak memiliki daya tawar nasional yang strategis.

Maluku Utara hanya menjadi masyarakat kelas kedua, pada posisi kebijakan Nasional, baik dari sisi fiskal maupun berbagai kebijakan ikutan yang mampu menempatkan Maluku Utara sebagai provinsi strategis, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di tengah resesi global yang mengancam perekonomian dunia

Forum G20 di Bali, memperbincangkan aspek keuangan dan investasi, Malut menjadi buah bibir yang di perbincangkan sebagai kawasan yang mampu mendorong investasi sektor tambang, menyanggah neraca perdagangan, memenuhi kebutuhan pasar global, investasi dan keuangan, namun di sayangkan Maluku Utara seolah kehilangan posisi dalam merumuskan kebijakan pembangunan sebagai dampak dari lemahnya kualitas kepemimpinan provinsi yang tak cukup mampu mengartikulasikan momentum pertumbuhan ekonomi sebagai motor penggerak sejahtera warganya.

Kualitas kepemimpinan ini sesungguhnya mencerminkan pelambatan pembangunan manusia, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas yang masih terpuruk, institusi pendidikan tumbuh di berbagai wilayah, tapi tidak memberikan efek pada pertumbuhan kualitas manusia, pembangunan sekolah dari PAUD sampai Perguruan tinggi, tapi kualitas lulusan belum memenuhi standar kualitas pasar global, bantuan beasiswa pada berbagai jenjang pendidikan dari SD sampai Doktor, yang ada hanya gelar yang di produksi tetapi tidak menghidupkan kualitas manusia sebagai lakon utama dari pembangunan Malut, yang tersedia para pejabat memburu gelar Magister dan Doktor, tetapi Guru tidak diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang bermutu, akibatnya gelar Magister dan Doktor menumpuk pada jabatan politik tapi defisit gelar magister dan doktor di tenaga pengajar. 

Pembangunan pendidikan menjadi formalistik saling mengejar gelar mengabaikan kompetensi, dengan mudah diberi gelar walau kompetensinya rendah, tak cukup mampu mengerakkan ekonomi dan perubahan sosial yang inheren dengan kebutuhan masa depan memakmurkan negeri dari kreatifitas

Dampak yang dirasakan, pemimpinnya menjual keberhasilan dengan pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di Indonesia bahkan dunia, tapi faktanya menyedihkan rakyatnya mengalami keterpurukan akibat dampak kenaikan harga BBM, komoditi andalan Kopra anjlok dari Quartal-1 2022 sebesar Rp. 12.000/Kg, tersisa pada Quartal-4 2022, anjlok tersisa 4.000/Kg, sebagian rakyat menjelang Natal dan tahun baru mengalami proses pemiskinan yang makin dalam, masuk kategori kemiskinan ekstrim di pulau Halmahera yang dikenal sebagai pusat ekspor tambang, di pulau-pulau kecil, deretan miskin makin terasa dari keterpurukan yang makin dalam, masih saja ada kebanggaan pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif makin menyayat hati ditengah kegembiraan 23 tahun mendapatkan kado Provinsi, Harga Kopra menjadi iktiar akan arti pentingnya membenahi ekonomi rakyat yang menyentuh dapur-dapur rakyat, yang sekarang mengalami pertumbuhan minus. (**)

Share:
Komentar

Berita Terkini